Efek Krisis Evergrande Yang Perlu Kamu Ketahui

Di tengah krisis energi yang sedang dihadapi, kondisi likuiditas bisnis di pasar properti yang masih belum stabil membuat pemerintah China harus berpikir lebih keras lagi untuk menyelamatkan perekonomian negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Pada Agustus lalu, dunia dihebohkan oleh fakta bahwa pengembang raksasa asal China, Evergrande, memiliki utang yang nyaris mencapai 2 triliun yuan (US$ 309 miliar) atau setara dengan Rp 4.418 triliun (kurs Rp 14.300/US$) yang tercatat dalam neraca keuangan perusahaan.

Sementara itu kas atau setara kas Evergrande hanya sepersepuluh dari jumlah tersebut, menyebabkan likuiditas perusahaan benar-benar seret dan tidak bisa melunasi pembayaran kepada investor atas surat utang yang diterbitkan.

Hingga saat ini perusahaan telah melewatkan tiga kali kewajiban pembayaran atas obligasi berdenominasi dolar kepada investor di luar China daratan, dengan total mencapai US$ 281 juta atau setara Rp 4 triliun terhadap surat utang luar negerinya.

Sekadar catatan brand Evergrande selama ini menghiasi hampir berbagai sudut perkotaan Negeri Panda. Selama bertahun-tahun terjadinya booming properti di negara itu, Evergrande turut membantu menciptakan jenis kegiatan ekonomi yang menjadi sandaran China untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Investor global harus dipusingkan oleh sentimen negatif baru di pasar keuangan dengan adanya kasus ancaman gagal bayar yang dialami oleh Evergrande Group. Adapun, perusahaan raksasa properti China tersebut menghadapi tantangan kebangkrutan setelah terlilit utang senilai US$300 miliar. Risiko itu pun berpeluang memberikan efek domino di China. Salah satu efek domino yang dikhawatirkan dari kebangkrutan Evergrande adalah dampak terhadap ekonomi China yang akan melambat. Selain itu, koreksi di pasar properti China pun tidak hanya akan memperlambat perekonomian domestik namun juga global termasuk Indonesia.

menyebabkan guncangan di seluruh pasar keuangan China dan memicu kekhawatiran akan konsekuensi buruk yang mungkin terjadi bagi sistem keuangan China.

Investor internasional tidak lagi hanya menghindari obligasi Evergrande yang hancur lebur, melainkan surat utang yang dikeluarkan oleh pengembang lain juga ikut merosot. Sementara itu bank-bank dengan eksposur ke sektor properti China saat ini berada di bawah pengawasan.

Hal yang perlu diketahui tentang krisis Evergrande

Pengembang real estate terbesar di China

Evergrande adalah salah satu pengembang real estate terbesar di China. Perusahaan ini masuk dalam kategori 500 perusahaan terbesar di dunia berdasarkan pendapatan. Perusahaan ini terdaftar di Hong Kong dan berbasis di Kota Shenzhen di China selatan. Melansir CNN, Kamis (30/9/2021), perusahaan ini mempekerjakan sekitar 200.000 orang dan berkontribusi terhadap lebih dari 3,8 juta pekerjaan setiap tahun.

Melakukan pembangunan besar-besaran

Evergrande memiliki lebih dari 1.300 proyek di lebih dari 280 kota-kota di seluruh China. Diberitakan Wall Street Journal, Minggu (3/10/2021), hingga akhir tahun lalu, pengembang properti tersebut memiliki lebih dari 700 proyek yang sedang dibangun, dengan total luas lantai 132 juta meter persegi. Sebelumnya, pada 2010, perusahaan Evergrande juga membeli sebuah tim sepak bola, yang sekarang dikenal sebagai Guangzhou Evergrande.

Dengan sokongan dana dari grup, tim ini juga membuka sekolah sepak bola terbesar di dunia, dengan biaya 185 juta dollar Amerika Serikat (AS). Tak cukup dengan itu, grup ini berencana menciptakan stadion sepak bola terbesar di dunia senilai 1,7 miliar dollar AS. Stadiun yang rencananya mampu menampung 100.000 penontoh itu diasumsikan selesai tahun depan.

Obligasi luar negeri Evergrande sekarang diperdagangkan kurang dari 30 sen untuk satu dolar atau 70% lebih rendah dari harga aslinya, menunjukkan peluang gagal bayar sangat mungkin. Bloomberg melaporkan Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan China telah memberi tahu bank bahwa Evergrande tidak akan mampu membayar kewajiban utang yang jatuh tempo pada 20 September. Perusahaan juga menghadapi 15 pembayaran kupon obligasi sebelum akhir tahun, mulai dari 23 September.

Perusahaan mempertahankan Houlihan Lokey dan Admiralty Harbour Capital sebagai penasihat keuangan untuk menilai struktur permodalan dan mencari solusi untuk krisis likuiditas, memberi sinyal bahwa kegagalan untuk memperpanjang pembayaran “dapat menyebabkan gagal bayar di bawah pengaturan pembiayaan grup.”

Di sektor lain, biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lama dapat membebani perusahaan-perusahaan China dan pada akhirnya menyebabkan peningkatan default (gagal bayar) di seluruh sektor perbankan dan manajemen kekayaan.

Obligasi yang diterbitkan oleh pengembang properti lain yang berutang besar, Guangzhou R&F, sat ini harganya 58% dari nilai nominalnya, dibandingkan dengan 72% pada awal bulan. Moody’s menurunkan peringkat kredit dan memperingatkan kemungkinan kesulitan akan pembiayaan kembali utangnya.