Jerome Powell Kembali Menjadi Ketua The Fed, Dolar Mendekati Level Tertinggi

Dollar mencapai level tertinggi dalam 16 bulan terakhir terhadap euro. Dolar AS menguat setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell dinominasikan kembali untuk masa jabatan empat tahun ke depan oleh Presiden Joe Biden. Sedangkan Lael Brainard, Anggota Dewan Federal Reserve yang menjadi kandidat teratas sebagai Ketua The Fed, akan menjadi Wakil Ketua The Fed. “Dengan Powell dicalonkan kembali untuk masa jabatan kedua, itu menunjukkan prospek kebijakan moneter yang kurang dovish daripada di bawah kepemimpinan Brainard,” kata Analis Pasar Senior Western Union Business Solutions, Joe Manimbo, dikutip dari Antara, Selasa (23/11/2021).

Presiden AS Joe Biden memilih Powell daripada kandidat utama lainnya Lael Brainard, yang pasar anggap lebih dovish dari keduanya, meskipun Brainard akan menjadi wakil ketua Fed.

Berita tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga tahun depan ketika bank sentral selesai mengurangi program pembelian obligasi daruratnya.

Pasar mata uang sebagian besar didorong oleh persepsi pasar tentang langkah yang berbeda di mana bank sentral global mengurangi stimulus era pandemi dan menaikkan suku bunga.

“Nominasi Ketua Powell untuk masa jabatan kedua akan membuat pasar nyaman dengan harga di kenaikan Fed mulai Juli tahun depan,” kata analis di Westpac dalam sebuah catatan. “Setidaknya tiga pejabat Fed sekarang secara terbuka membahas percepatan tapering juga.”

“Sementara itu, langkah-langkah penekanan virus sedang diterapkan di Eropa lagi, sangat kontras,” tambah mereka.

Euro merosot di $ 1,124, sekitar level terendah 16 bulan, setelah kehilangan 2,8% sejauh bulan ini.

Tahun depan, The Fed diperkirakan mulai menaikkan suku bunga acuannya. Jika bergerak terlalu lambat dalam menaikkan suku bunga ini, inflasi dapat kian meningkat. Tetapi jika suku bunga dinaikkan terlalu cepat, hal itu akan mengganggu pemulihan.

Powell mengatakan, inflasi yang tinggi merugikan keluarga, terutama mereka yang kurang mmpu memenuhi biaya kebutuhan pokok. Ia berjanji merancang kebijakan sebaik mungkin untuk menstabilkan inflasi melalui kenaikan suku bunga.

Selain inflasi, Biden juga meminta The Fed berkomitmen untuk menjadikan perubahan iklim sebagai prioritas. “Saya meminta jangan lagi mengekspos ekonomi kita dan keluarga Amerika pada risiko semacam itu (perubahan iklim),” kata Biden.

Masa jabatan Powel akan berakhir pada Februari 2022. Selama menjabat Powell terbukti dapat membawa aset berisiko ke arah positif. Indeks S&P melonjak 69,7 persen sejak pengangkatannya pada 5 Februari 2018.

Bahkan mencapai rekor tertinggi dengan sentimen pandemi COVID-19. Langkah-langkah yang diluncurkan the Fed merupakan tanggapan atas pandemi COVID-19 yang melanda global.

“Saya merasa sangat lega. Dia (Powell) memiliki tangan yang stabil, saya pikir orang-orang menyukainya secara umum kebijakan yang dia buat sejak COVID-19 pertama kali menjalar di ekonomi global,” ujar President Chase Investment Counsel di Virginia Peter Tuz, dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (23/11/2021)

Tuz menambahkan, Powell disukai oleh dua belah pihak yaitu investor dan pemerintah AS karena kebijakan yang dikeluarkan cukup memperkuat ekonomi AS sehingga cukup stabil.

Jerome Powell selalu jadi favorit sebagai kandidat ketua the Fed, tetapi dia dipandang kurang memberikan gebrakan. Terutama setelah peluang di pasar turun imbas ktirik tajam terhadap penampilannya dari Demokrat dan skandal perdagangan saham di antara pejabat the Fed.

Situs taruhan daring Predictt memberi peluang 79 persen kepada Powell untuk konfirmasi dari Senat AS pada Senin pagi, 22 November 2021.

Mata uang tunggal terseret lebih rendah karena kekhawatiran meningkatnya pembatasan baru Covid-19 di Eropa, dengan Austria memasuki penguncian penuh lainnya dan Jerman mempertimbangkan untuk mengikutinya. “Ini semacam pukulan satu-dua untuk euro. Salah satunya adalah peningkatan kasus di seluruh blok, dan apa yang dilakukan adalah memperkuat pandangan yang jelas dovish untuk kebijakan (Bank Sentral Eropa) dan itu sangat kontras dengan The Fed, di mana tekanan meningkat bagi bank sentral AS untuk mengadopsi langkah normalisasi yang lebih cepat,” kata Manimbo.