Kesalahan Yang Sering Dilakukan Pada Saat Market Crash!

Market crash terjadi ketika indeks pasar turun drastis dalam satu hari, atau beberapa hari perdagangan. Crash terjadi lebih tiba-tiba daripada koreksi pasar saham, yaitu ketika pasar turun 10% dari tertinggi 52 minggu selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Masing-masing bull market dalam 40 tahun terakhir telah mengalami koreksi. Ini adalah bagian alami dari siklus pasar yang disambut baik oleh investor yang bijaksana.

Penyebab Market Crash

Sederhananya, penjual yang ketakutan menyebabkan terjadinya market crash.

Peristiwa ekonomi, malapetaka, atau krisis yang tidak terduga memicu kepanikan. Misalnya, kehancuran pasar tahun 2008 dimulai pada 29 September 2008, ketika Dow turun 777,68 poin. Itu adalah penurunan poin terbesar dalam sejarah Bursa Efek New York pada saat itu. Investor panik setelah Kongres gagal menyetujui RUU bailout bank. Mereka takut bahwa lebih banyak lembaga keuangan akan bangkrut seperti Lehman Brothers.

Crash umumnya terjadi pada akhir bull market yang diperpanjang. Saat itulah kegembiraan atau keserakahan irasional telah mendorong harga saham ke tingkat yang tidak berkelanjutan. Pada saat itu, harga berada di atas nilai riil perusahaan yang diukur dengan pendapatan.

Hal-Hal yang Perlu Diketahui Tentang Market Crash dan Cara Mengantisipasinya

Mempelajari Kondisi Politik dan Ekonomi

Dari kejadian-kejadian di atas, bisa ditarik kesimpulan kalau crash market akan terjadi bila terpengaruh tiga hal, yaitu kondisi ekonomi, politik dalam negeri dan politik luar negeri. Jadi, berinvestasi di pasar saham juga harus mengikuti perkembangan berita global supaya kamu bisa memprediksi kondisi pasar.

Saat ini dunia sedang dikhawatirkan oleh perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Kedua negara saling memblokir produk dengan menaikkan tarif setinggi-tingginya. Aliran barang pun melambat diikuti dengan proses produksinya. Indonesia sebagai negara yang punya hubungan erat dengan kedua negara tentu merasakan imbasnya.

Masalah ini sekarang juga diperparah dengan mewabahnya Covid-19 yang membuat aktivitas ekonomi nyaris terhenti. Dalam kondisi seperti ini biasanya banyak investor saham yang mengambil jalan aman, yaitu wait and see atau mengalihkan investasinya ke instrumen lain yang lebih aman seperti emas sebagai langkah antisipasi.

Jangan Panik

Selain kondisi di atas, crash market sebetulnya diperparah dengan sikap panik para investor. Kondisi politik dan ekonomi biasanya memicu kepanikan dan kepanikan inilah yang mendorong semakin jatuhnya harga saham.

Salah satu contoh kepanikan pasar adalah musibah finansial di Amerika Serikat yang dikenal dengan Black Monday pada 1987. Saat itu bursa Amerika Serikat terjun bebas dalam satu hari sebesar 22,6%. Namun, Warren Buffett sang pialang legendaris pernah memberikan saran untuk kondisi seperti ini, yaitu saat terjadi koreksi harga saham pasti melahirkan kesempatan untuk membeli.

Buffett juga orang pertama yang menyarankan bahwa krisis ekonomi Amerika Serikat pada 2008 adalah saat paling tepat untuk berinvestasi dan itu terbukti benar, seperti yang dirilis oleh Kontan.co.id

Antisipasi Market Crash

Dalam kondisi IHSG yang tertekan, melakukan pembagian dividen dan ‘buyback’ bisa mencegah potensi market crash. Contohnya saat ini ketika IHSG tertekan akibat wabah Covid-19, beberapa perusahaan farmasi justru terdongkrak harga sahamnya karena kebutuhan masyarakat akan produk mereka yang meningkat.

Tentu saja ini bisa menjadi angin segar untuk menjaga harga saham, terlebih bila terjadi aksi buyback oleh para emiten. Menurut berita yang dilansir Investor Daily beberapa perusahaan besar bersedia melakukan buyback dalam rangka mengantisipasi market crash akibat wabah Covid-19.

Efek dari Market Crash

Market crash dapat menyebabkan bear market. Saat itulah pasar jatuh 10% di luar koreksi untuk penurunan total 20% atau lebih. Crash pasar saham juga dapat menyebabkan resesi.

Saham merupakan sumber modal penting yang digunakan perusahaan untuk mengelola dan mengembangkan bisnis mereka. Jika harga saham turun drastis, perusahaan memiliki kemampuan yang lebih kecil untuk tumbuh. Perusahaan yang tidak berproduksi pada akhirnya akan memberhentikan pekerja agar tidak bangkrut. Karena pekerja diberhentikan, pengeluaran lebih sedikit. Penurunan demand berarti lebih sedikit pendapatan, yang berarti lebih banyak PHK. Ketika penurunan berlanjut, ekonomi berkontraksi, menciptakan resesi. Di masa lalu, kehancuran pasar saham mendahului Depresi Hebat, resesi 2001, dan Resesi Hebat 2008.

Emas Bisa Menjadi Lindung Nilai

Emas mungkin menjadi lindung nilai terbaik terhadap potensi kehancuran pasar saham. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Trinity College menemukan bahwa, selama 15 hari setelah crash, harga emas meningkat secara dramatis. Investor yang ketakutan menjadi panik, menjual saham mereka, dan membeli emas.