Krakatau Steel (KRAS) Lego Saham Subholding

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menyampaikan berkomitmen untuk memenuhi kewajiban utangnya kepada para kreditur yang merupakan bagian dari proses restrukturisasi perusahaan. Pembayaran utang yang jatuh tempo di bulan Desember akan dibayarkan melalui penjualan saham di Subholding Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI). Direktur Keuangan Krakatau Steel Tardi mengatakan, saat ini ada dua penawar yang sudah memasukkan harga, yakni Indonesia Investment Authority (INA) dan konsorsium Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

Ketika proses tersebut selesai, baik konsorsium INA maupun konsorsium PPA, berkomitmen akan menyelesaikan pembayaran di bulan Desember 2021. Melalui pembayaran ini, Krakatau Steel dapat memenuhi kewajiban utang di bulan Desember 2021. “Krakatau Steel akan tetap menjaga kemampuan perusahaan dalam membayar utang melalui serangkaian inisiatif strategis perusahaan.

Pengelolaan utang ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan mengacu kepada perjanjian kredit restrukturisasi yang ditandatangani pada Januari 2020 dengan 10 kreditur,” ucapnya. Dia melanjutkan, Krakatau Steel telah membayar cicilan utang sebesar Rp444,7 miliar setelah restrukturisasi utang, yang terdiri dari utang Tranche A hasil kesepakatan restrukturisasi utang Krakatau Steel sebesar Rp258 miliar dan cicilan utang kepada Commerzbank Rp186,7 miliar.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menerangkan perbaikan kinerja Krakatau Steel terus berlanjut walaupun di masa pandemi Covid-19 Emiten berkode saham KRAS ini semakin memperkuat bisnis dan meningkatkan nilai perusahaan di anak-anak usahanya dengan membentuk Subholding Krakatau Sarana Infrastruktur pada Juni 2021 dan Subholding Krakatau Baja Konstruksi pada Agustus 2021.

Transformasi bisnis, Krakatau Steel

Subholding Sarana Infrastruktur yang merupakan perusahaan hasil integrasi dari beberapa anak perusahaan perseroan. Dokumen pembentukan Subholding Sarana Infrastruktur Krakatau Steel telah ditandatangani oleh Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dan pemegang saham lainnya pada Rabu (30/6) lalu. Pembentukan subholding ini dilakukan dalam rentang waktu selama tiga bulan sejak bulan Maret 2021.

Subholding Sarana Infrastruktur ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang layanan kawasan industri terintegrasi dengan empat area utama, yang terdiri dari kawasan industri, penyediaan energi, penyediaan air industri, dan pelabuhan. Adapun anak perusahaan yang bergabung adalah PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (PT KIEC), PT Krakatau Daya Listrik (PT KDL), PT Krakatau Tirta Industri (PT KTI), dan PT Krakatau Bandar Samudera (PT KBS).

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, Subholding Sarana Infrastruktur memiliki pondasi yang kuat secara finansial. Penggabungan empat perusahaan tersebut memiliki pendapatan Rp 3,4 triliun dan nilai EBITDA sebesar Rp1 triliun pada tahun 2020 dan akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan kawasan industri di Indonesia.

Pada tahun 2020, terdapat puluhan perusahaan multinasional dan perusahaan domestik yang telah berinvestasi dengan potensi pertumbuhan yang lebih besar di tahun mendatang. Beberapa industri itu di antaranya, Semen Indonesia, Holcim, Pupuk Indonesia, Posco, Nippon Steel, PT Timah, Asahimas, Lotte Chemical, Chandra Asri, Indofood, Charoen Pokphand, JAPFA, Astra Internasional, dan Indonesia Power.

“Dari pembentukan subholding ini diproyeksikan menghasilkan pendapatan hingga Rp7,8 triliun di lima tahun mendatang. Sementara untuk EBITDA diproyeksikan meningkat mencapai Rp2,2 triliun di tahun 2025,” ungkap Silmy dalam keterangan resmi yang terima Kontan.co.id, Kamis (1/7).